Ilmu Qafiyah - Definisi dan Jenis Huruf-Huruf Qafiyah

Table of Contents
Ilmu Qafiyah - Definisi dan Jenis Huruf-Huruf Qafiyah

A. Definisi

    Secara bahasa Qafiyah artinya adalah (مؤخر العنق), sedangkan dalam istilah pakar Arudh Qafiyah adalah akhir suatu bait, baik kata terakhirnya termasuk bagian dari bait tersebut-berdasarkan pendapat Imam Akhfasy- sebagaimana kata (موعد) pada ungkapan;

تَزَوَّدْ إلَى يَـوْمِ الـمَمَاتِ فَإنَّـهُ  *  وَلَوْ كَـرِهَـتْهُ الـنَّفْسُ آخِرُ مَوْعِدِ

    Atau sebagaimana pendapat Khalil: Qafiyah merupakan bagian dari huruf mati (sukun) terakhir dalam sebuah bait puisi sampai huruf mati terdekat sebelumnya, beserta huruf berharakat (hidup) yang ada sebelum huruf mati tersebut. Menyambung dari definisi ini, Qafiyah adakalanya:

1. Berbentuk satu kata

    Seperti pada lafad (موعد) di bait sebelumnya, huruf mati terakhirnya adalah huruf Ya' (موعدي), sedangkan huruf mati terdekat yang bersandingan dengan huruf berharakat adalah Wawu yang didahului huruf Mim.

2. Lebih dari dua kata

    Contoh dari kasus ini sepertihalnya kata (لم يـنـم) pada puisi;

لِكُلِّ مَا يُـؤْذِي وَإنْ قَلَّ أَلَـمْ  *  مَا أَطْوَلَ اللَّـيْلَ عَلَى مَنْ لَـمْ يَـنَـمْ

3. Sebagian kata

    Penggambarannya sebagaimana lafad (لالا) dari puisi;

وَمَنْ يَكُ ذَا فَـمٍ مُـرٍّ مَرِيضٍ  *  يَـجِدْ مُرًّا بِـهِ الـمَاءَ الـزُّلَالَا

    Selanjutnya dalam bidang ini terdapat 5 pembahasan yang wajib diketahui penyair, berkaitan dengan huruf-huruf Qafiyah, Harakat, macam-macamnya, batasan serta aib-aibnya. (Pembahasan berkelanjutan)

B. Huruf-Huruf Qafiyah

    Huruf-Huruf Qafiyah ada 6 macam, dan kesemuanya ini apabila masuk di awal Qashidah maka harus diberlakukan juga pada seluruh bait-bait yang lainnya.

1. Rawi (روي)

    Yaitu huruf pembangun sebuah Qashidah sehingga dinisbatkan berdasarkan huruf tersebut, maka muncullah istilah Qashidah Lamiyah (لامية), Mimiyah (ميمية) atau Nuniyah (نونية) apabila huruf akhirnya berupa Lam, Mim, atau Nun. Dan huruf ini tidak ada yang berupa huruf Mad atau huruf Ha' (هـ). Sampelnya bisa dilihat pada sebait puisi di bawah ini;

وَفِي الشَّرَارَةِ ضَعْفٌ وَهْيَ مُؤْلِـمَـةٌ  *  وَرُبَّـمَا أَضْرَمَـتْ نَارًا عَلَى بَلَدِ

2. Washl (وصل)

    Yang dimaksud Washl di sini adalah huruf Mad yang muncul akibat Isyba' / pemanjangan Harakat di akhir huruf Rawi. Sebagaimana ucapan seorang penyair;

وَإذَا الـمَنِـيَّـةُ أَنْـشَبَتْ أَظْفَارَهَا  *  أَلْـفَـيْـتَ كُلَّ تَـمِـيـمَـةٍ لَا تَـنْفَعُ

    Studi kasusnya ada pada Wawu yang muncul akibat Isyba'ul Harakat setelah huruf Ain di lafad (تنفع) menjadi (تنفعو)

    Selain itu, di sebagian momen tertentu adakalanya Washlnya asli seperti huruf Alif pada lafad (عصا) dari ungkapan;

وَاللَّوْمُ لِـلْـحُرِّ مُـقِـيمٌ رَادِعٌ  *  وَالـعَبْدُ لَا يَـرْدَعُـهُ إلاَّ الـعَصَا


NB : Pada titik ini, terkadang banyak juga penambahan Alif Washl setelah Fi'il Madhi atau Maf'ul Bih sebagaimana 2 puisi di bawah ini;

مَا كُلُّ يَـومٍ يَـنَالُ الـمَرْءُ مَا طَلَبَا

رَأَيْـتُ رَأْيًـا يَـجُرُّ الـوَيْلَ وَالـحَرْبَا

3. Khuruj (خروج)

    Khuruj adalah huruf Layn yang bersandingan dengan Ha' Washl, seperti huruf Ya' yang muncul sebab pemanjangan Ha' pada lafad (مساويه) sebagai gantian dari (مساويـهـي), contonhya bisa diamati pada puisi berikut;

لَا تَـحْفَـظَنَّ عَلَى الـنَّـدْمَانِ زَلَّـتَـهُ  *  وَاقْبَـلْ لَـهُ الـعُذْرَ وَاحْلُمْ عَـنْ مَسَاوِيـهِ

4. Radf (ردف)

    Radf merujuk pada huruf Layn mati (Wawu atau Ya' yang jatuh setelah Harakat yang tidak satu jenis) atau huruf Mad (Alif, Wawu, atau Ya' yang jatuh setelah Harakat yang sejenis) sebelum huruf Rawi dimana keduanya (huruf Mad & Layn) bersambung dengan huruf Rawi tersebut. Sampel dari huruf Layn dapat dilihat pada kata (عَيْـن) di bait puisi;

الدَّارُ لَـوْ كُـنْـتَ تَـدْرِي يَا أَخَا مَرَحٍ  *  دَارٌ أَمَامَكَ فِـيهَا قُـرَّةُ الـعَـيْـنِ

    Sedangkan untuk huruf Mad, contohnya seperti puisi di bawah ini; tepatnya pada lafad (سبيل);

لَا تَـعْمُـرِ الدُّنْـيَـا فَلَـيْـــــ   *   ـــسَ إلَى الـبَـقَاءِ بِـهَـا سَـبِـيلُ

    Akan tetapi, ada di momen tertentu huruf Wawu dan Ya' terkumpul pada Radf Mad, kasus seperti ini tidak diperkenankan dalam Radf Layn. Seperti lafad (فعول) dan (نزيل) yang terkumpul dalam bait;

إذَا سَـيِّدٌ مِـنَّا خَلَا قَامَ سَـيِّـدٌ   *   قَـئُـولٌ بِـمَا قَالَ الـكِـرَامُ فَـعُولُ

وَمَا أُخْـمِدَتْ نَارٌ لَـنَا دُونَ طَارِقٍ   *   وَلَا ذَمَّـنَا فِي الـنَّـازِلِـيـنَ نَـزِيلُ

5. Ta'sis (تأسيس)

    Berikutnya adalah Ta'sis, mengacu pada Alif Hawiyah yang tidak dipisah oleh huruf Rawi kecuali satu huruf berharakat sebagaimana alif yang terdapat pada lafad (جاهل) di bawah ini;

نَظَرْتُ إلَى الدُّنْـيَا بِـعَـيْـنِ مَرِيـضَةٍ   *   وَفِـكْـرَةِ مَـغْرُورٍ وَتَـأْمِـيلِ جَاهِلِ

    Apabila Alifnya ada di selain kata Rawi, maka tidak dihitung sebagai Ta'sis sebagaimana Alif Mutsanna di lafad (الْـقَـهُـمَا) berikut;

وَلَـقَـدْ خَـشِيـتُ بِـأَنْ أَمُـوتَ وَلَـمْ تَـكُـنْ    *   لِلْحَـرْبِ دَائِـرَةٌ عَلَى ابْـنَـيْ ضَـمْضَـمِ

الـشَّاتِـمَـيْ عِـرْضِي وَلَـمْ أَشْـتُـمْهُـمَا   *   وَالـنَّاذِرِيـنَ إذَا لَـمَ الـقَـهُـمَا دَمِي

6. Dakhil (دخيل)

    Dakhil merupakan huruf hidup yang menjadi pemisah antara Ta'sis dan Rawi seperti huruf Dal-nya lafad (صادق) pada ungkapan;

فَلَا تَـقْـبَـلَـنْـهُـمْ إنْ أَتَـوْكَ بِـبَاطِلٍ   *   فَفِي الـنَّاسِ كَـذَّابٌ وَفِي الـنَّاسِ صَادِقُ

Sekian dan Semoga bermanfaat 🌟

Post a Comment

Buat Blog SEO
Buat Blog SEO